A* | HOME | ARTIKEL | PERSPEKTIF | RISET | SIMPUL CERITA

Barangkali, untuk beberapa orang yang sedang memilih layanan web hosting dan domain sedikit bingung untuk memilih layanan apa saja yang dibutuhkan dan apa saja yang menjadi kelebihan setiap layanan. Untuk yang masih awam apa itu web hosting dan apa itu domain, saya sederhanakan seperti ini. Jika domain adalah KTP anda, maka web hosting adalah dompet yang isinya ada KTP anda. Domain adalah sebuah identitas dari layanan website anda seperti pemberian alamat yang tadinya hanya berupa angka yang disebut IP menjadi sebuah alamat yg di awali dengan WWW (World Wide Web) seperti ketika anda mengakses layanan google dengan nama http://www.google.com, sedangkan hosting adalah medium yang menyimpan file master website anda, berikut dengan beberapa fiturnya dan nilai kapasitasnya baik berupa bandwidth maupun space penyimpanan.

Dari setiap tawaran yang menarik para penyedia jasa tersebut diantaranya memiliki fitur-fitur tertentu dan sebenernya hampir semua layanan menyediakan jasa yang hampir sama, namun tidak ada salahnya anda untuk mulai benchmarking terhadap layanannya. Untuk berbagi pengalaman, tentunya saya akan menjelaskan beberapa kriteria yang anda butuhkan untuk lebih tepat memilih jasa web hosting tertentu sesuai dengan kebutuhannya. Berikut tips yang saya akan bagikan

1. Tentukan nama domain sebagai identitas usaha anda

Bagi para newbie, baik itu anda yang sedang mencari informasi layanan web hosting dan domain atau para developer muda yang ingin melakukan deploy aplikasinya pada domain yang mereka kehendaki, berikut juga para pebisnis yang ingin menyediakan akses perusahaannya melalui website. Ada baiknya untuk melakukan hunting nama domain terlebih dahulu, anda dapat mengecek nama domain melalui fitur pencari “nama domain”. Ingat, semakin booming nya trend .com (dotcom), nama-nama premium yang anda kehendaki belum tentu bisa anda miliki, jika nama tersebut sudah di miliki orang lain atau sudah di parking oleh suatu layanan yang menjual nama-nama domain premium, alternatifnya adalah memilih ekstensi domain yang lain seperti .id, .co.id, .co, .net, .me, .biz . dll. Jika anda cukup berkantong tebal untuk membeli nama domain premium, anda dapat mengikuti lelang atau mengontak langsung penyedia layanan parking domain tersebut.

2. Menilai layanan sesuai kebutuhan layanan anda, bukan keinginan anda.

Jika masalahnya adalah mana layanan jasa web hosting  yang baik, tentu semua layanan juga baik. karena sebagai prinsipnya, tidak ada layanan yang akan dijual dalam keadaan tidak baik. Mulai transformasi keinginan anda dalam bentuk kebutuhan layanan anda, apa sebenernya yang diperlukan layanan website anda terhadap hosting yang anda gunakan nantinya. Perlu di garis bawahi bahwa, dimanapun anda membeli domain, tidak akan mempengaruhi layanan anda terhadap akses yang berlaku ketika website anda diakses oleh pengunjung. Maksudnya, nama domain tidak mempengaruhi secara skalatis cepat lambatnya akses pengunjung. Karena sebenernya, yang mempengaruhi cepat lambatnya halaman website anda dibuka ketika diakses yang lebih signifikan adalah fitur dari kapasitas hostingnya. Saya coba kelaskan beberapa layanan website berbanding dengan fitur hostingnya

A. Jika anda mempunyai layanan e-commerce atau web app, maka:

Anda perlu mengetahui target yang anda capai adalah ribuan bahkan jutaan pengunjung yang kelak akan mengakses halaman website anda, pengunjung tipe pembeli seperti ini mengutamakan kecepatan dan navigasi website yang mudah. Karena pada umumnya, masyarakat beli tidak ingin bertele-tele, karena tujuan utamanya adalah mencari produk yang mereka kehendaki untuk dibeli. Saya anjurkan untuk memilih fitur hosting yang memang khusus menangani akses dengan bandwidth yang besar, beberepa diantaranya yang saya referensikan untuk layanannya adalah dedicated box server, layanan ini merupakan layanan yang saya rekomendasikan untuk tipe perusahaan mid-hight-class atau perusahaan yang mengkhususkan untuk berkecimpung didunia e-commerce, alasan utama memilih layanan ini, selain besarnya spesifikasi yang ditawarkan bahwa layanan ini memberikan keleluasaan, karena seluruh hak akses dan kontrol pada dedicated server sepernuhnya merupakan kewenangan developer perusahaan untuk meningkatkan segala aktivitas layanan websitenya.

Layanan lainnya yang saya rekomendasikan bagi para pebisnis yang tidak ingin setengah-setengah dalam mengembangkan produknya, agar layanan anda terenkripsi dengan baik dan meningkatkan “Trust” pada layanan website anda, ada baiknya menambahkan sertifikasi SSL pada website anda. Hal ini untuk meningkatkan kepercayaan pengguna, baik bagi data informasi mereka dan setiap transaksi yang mereka lakukan melalui website akan lebih terjaga kerahasiannya, terjamin dan terenkripsi.

Sebenarnya pada perkembangannya, e-commerce pada satu dekade ini cukup tersegmentasi, jika anda mempunyai layanan e-commerce untuk sektor penjualan produk usaha pribadi atau home industry, saya rekomendasikan untuk memilih layanan business hosting. Saya kira layanan ini akan cukup memenuhi standar kebutuhan bagi layanan websitenya.

B. Jika anda mempunyai blog pribadi atau sekedar web profile, maka:

Anda harus mengetahui kriteria pengunjung anda, biasanya untuk para penggiat atau aktivis blogger mereka mempunyai para pembaca setia yang setiap harinya atau setiap bulannya traffic nya meningkat, jadi saya sarankan untuk menggunakan layanan personal hosting yang cukup memenuhi standar traffic nya. Berikut juga web profile, semacam web company profile atau web personal profile yang tidak terlalu dinamis dari segi aktivitas dan konten, layanan ini cukup memenuhi standar kebutuhan sekalipun anda mengambil layanan yang paling biasa sekalipun, terkecuali jika company profile-nya untuk urusan yang lebih luas, semisal perusahaan besar yang pangsa pasarnya mendunia maka perlu untuk mengupgrade layanannya ke layanan hosting yang lebih besar.

Bagi anda yang ingin mencoba layanan trial, sebelum anda benar-benar ingin membeli layanan hostingnya, silahkan untuk mencoba layanannya melalui trial hosting gratis

3. Membeli layanan saat promo

Ini jurus jitu yang selalu saya lakukan, untuk membeli layanan yang cukup murah adalah membeli layanan saat penyedia jasa sedang mengadakan promo, jika harga domain .com yang biasanya Rp. 150.000,00 pada saat promo bisa di bandrol dengan diskon 50%, ini adalah kesempatan karena anda dapat membeli domain setengah harga. Jadi manfaatkan kesempatan tersebut untuk membeli layanan yang anda kehendaki.

4. Layanan after sale yang baik

Saya mengawali karir sebagai profesional developer pada tahun 2010, sudah banyak aktivitas yang saya lakukan dengan berbagai macam proyek yang berhubungan langsung dengan aplikasi website berikut dengan layanan dari penyedia jasa web hosting dan domain, salah satu yang paling penting dari layanannya adalah ticketing system, invoice reminder & live support. Oleh karena itu perlu diperhatikan bagi anda yang sedang memilih, karena layanan seperti ini akan sangat dibutuhkan jika ada kendala teknis dari sisi server atau ketidaktahuan kita sebagai developer untuk menyetting beberapa fitur dari hosting atau domain, terutama invoice reminder sejalannya dengan kesibukan anda dengan aktivitas lain, kadang-kadang kita lupa kapan waktu jatuh tempo layanan yang kita sewa berakhir, dengan adanya layanan seperti ini, sistem akan mengingatkan kita melalui pesan email bahwa layanan yang kita sewa sudah masuk pada tahap “expired”. Keutamaan dalam layanan after sale 24-hours adalah dapat berhubungan langsung dengan support kapanpun selama 24 jam, terutama jika terdapat box live chatting online, karena layanan ini sangat memudahkan kita untuk berkomunikasi langsung dengan support pada saat urgent. Perlu di ingat, tidak semua layanan penyedia jasa web hosting dan domain memiliki layanan seperti ini, terkadang kita harus melalui akses tiket untuk membuat keluhan dan feedbacknya cukup lama, sementara disaat itu anda memerlukannya secara real time.

Read More

mekanika kuantum
Pendidikan bukan semata-mata hanya keinginan, tetapi dalam perspektif saya pendidikan adalah kebakuan yang mutlak, merupakan kebutuhan hidup yang perlu ditoleransi lebih. Pemikiran tersebut akan menjadi biasa manakala kemudian menjadi prioritas dalam pemikiran setiap orang, bahwasannya apa yang menjadi tumpuan tujuan setiap orang dalam kehidupannya, mengaitkan dengan kepentingan diri terhadap keinginan dan kebutuhan terhadap pendidikan. Pendidikan bukan semata-mata ilmu yang banyak tersebar, tapi pendidikan adalah ilmu yang konseptual bermetamorfosa melalui pengetahuan, buah dari ilmu. Pendidikan menjadi sebuah paket yang eksklusif pada akhirnya. Namun, tergantung bagaimana cara kita memandangnya karena banyak jalan tikus jika kita ingin menelusuri.

Akan sebaliknya dengan ilmu, ilmu tidak akan pernah eksklusif karena ilmu adalah hirarki teratas dari sebuah eksklusifitas. Ilmu merupakan bagian yang menjadi kelimpahan yang Tuhan berikan untuk kita, tanpa ilmu kita mungkin hanya seperti buih-buih yang berterbangan, sesuatu yang tidak bernilai apapun. Secara metafora, ilmu itu seperti air yang mengalir antara bebatuan samudera, udara yang mengisi seluruh ruang dan dimensi yang membentuk reaksi pertemuan mekanika quantum. Ketidakterbatasan menjadi sebuah konsep besar bagaimana ilmu dibentuk. Jadi, sudah semestinya kita mengalir dengan kuanta kebutuhan dalam memahami ilmu.

Manakala banyak orang memilih jalannya masing-masing dan menjalaninya sesuai pilihannya tersebut, ada orang yang merasa cukup adapula orang yang merasa belum cukup untuk mengejar ilmu, termasuk saya mengejar ilmu adalah ketentuan yang hakiki namun menapaki pendidikan adalah kepuasaan. Mengejar ilmu dan menapaki anak tangga pendidikan tidaklah sama, saya kira serupa namun tak sama. Jika ilmu banyak tersebar dan berkelimpahan bukan berarti kita sudah cukup untuk tidak menapaki tangga pendidikan. Banyak diantaranya orang-orang yang mempunyai pendapatnya sendiri, bahkan saya tidak membatasi pendapatnya tersebut, karena bahwasannya setiap orang mempunyai entitas usaha yang berbeda. Ada orang yang berusaha mengidentikan, bahwa “sukses” yang diraihnya bukan berasal dari dunia pendidikan yang dia dapat dari institusi formal, akan tetapi mental dari ilmu kehidupan yang berpengaruh banyak dalam perubahan dirinya. Dan saya mengamini, bahwasanya akan paham dengan pandangannya tersebut. Sebagian lagi, ada yang berpikiran bahwa dunia pendidikan menjadi akses untuk dirinya mengejar cita-citanya, menuai hasil dan mengejar “sukses” dalam perspektifnya. Saya tidak akan mendikotomi pemikiran-pemikiran tersebut, bahwasannya tulisan ini bukan membandingkan antara penting dan tidak pentingnya sebuah pendidikan tetapi untuk menganalisis ada dimana perspektif setiap orang. Saya sendiri bukan pada keduanya, ilmu dan pendidikan sama pentingnya, tapi penting dalam arti yang absurd karena belajar bagi saya seperti sebuah kebutuhan dan bukan keinginan.

Beberapa kali saya ditegur tentang penting tidaknya untuk melanjutkan pendidikan formal ke jenjang yang lebih tinggi, beberapa kali juga saya menyaksikan banyak orang yang tidak begitu antusias untuk berpartisipasi dalam nilai pendidikan formal yang berjenjang tersebut. Sebagian orang merasa cukup dengan keadaannya, sebagian lagi putus asa karena biaya, sebagian lagi menyerah karena ketidakberdayaannya.

Bahkan secara naif, dari internal keluarga pun banyak yang berpandangan bahwa ujung-ujungnya sekolah tinggi juga pada akhirnya mencari pencaharian. Atau sebagian teman, lebih baik bekerja dulu, pendidikan belakangan. Secara segmentasi, pemikirian mereka sama dan tidak salah. Tapi dasar pemikiran saya, selalu berkutat dengan keinginan kecil bahwa “hidup hanya satu kali, manfaatkan sebaik-baiknya” oleh karena itu, pemikiran saya sedikit saya keluarkan dari pemikiran yang biasanya, menempatkan bahwa ilmu dan pendidikan adalah sama pentingnya sebagai nilai yang “sukses”. Saya memandang ilmu kehidupan telah banyak mempengaruhi saya, akan tetapi pendidikan formal sama pentingnya dengan kebutuhan hidup, alih-alih sebagai batu loncatan, saya tidak memandang seperti itu. Pendidikan berjenjang hanyalah konsekuensi pertanggung jawaban pada kebutuhan berilmu tersebut.

Karena saya selalu memegang teguh pepatah ini:

“Try to be a man of value rather than a man of success.”

― Albert Einstein

 

Read More

Komputasi adalah algoritma yang digunakan untuk menemukan suatu cara dalam memecahkan masalah dari sebuah data input. Data input disini adalah sebuah masukan yang berasal dari luar lingkungan sistem. Komputasi ini merupakan bagian dari ilmu komputer berpadu dengan ilmu matematika. Secara umum ilmu komputasi adalah bidang ilmu yang mempunyai perhatian pada penyusunan model matematika dan teknik penyelesaian numerik serta penggunaan komputer untuk menganalisis dan memecahkan masalah-masalah ilmu (sains).

Dalam penggunaan secara umum, biasanya berupa penerapan simulasi komputer atau berbagai bidang keilmuan, tetapi dalam perkembangannya digunakan juga untuk menemukan prinsip-prinsip baru yang mendasar terhadap bidang ilmu yang mendasari teori ini. Bidang ini berbeda dengan ilmu komputer (computer science), yang mengkaji komputasi, komputer dan pemrosesan informasi. Bidang ini juga berbeda dengan teori dan percobaan sebagai bentuk tradisional dari ilmu dan kerja keilmuan. Dalam ilmu alam, pendekatan ilmu komputasi dapat memberikan berbagai pemahaman baru, melalui penerapan model-model matematika dalam program komputer berdasarkan landasan teori yang telah berkembang, untuk menyelesaikan masalah-masalah nyata dalam ilmu tersebut.

Pengertian Komputasi Modern Komputasi modern bisa disebut sebuah konsep sistem yang menerima intruksi-intruksi dan menyimpannya dalam sebuah memory, memory disini bisa juga dari memory komputer. Oleh karena pada saat ini kita melakukan komputasi menggunakan komputer maka bisa dibilang komputer merupakan sebuah komputasi modern. Konsep ini pertama kali digagasi oleh John Von Neumann (1903-1957). Dalam kerjanya komputasi modern menghitung dan mencari solusi dari masalah yang ada, dan perhitungan yang dilakukan itu meliputi:

  1. Akurasi
  2. Kecepatan
  3. Masalah dalam volume besar
  4. Modelling
  5. Kompleksitas

Sejarah Komputasi Modern Dalam perkembangan komputasi modern, kita tidak bisa melupakan begitu saja orang dibalik perkembangan komputasi modern yang merubah semua pekerjaan jadi lebih mudah. Sejarah komputasi dimulai dari seseorang ilmuan yang ternama di bidang teknologi. Permulaan komputasi modern dimulai pada saat tahun 1926 oleh ilmuan yang berasal dari hungaria yang bernama John Von Neumann. Von Neumann seorang ilmuan yang belajar dari Berlin dan Zurich dan mendapatkan diploma pada bidang teknik kimia pada tahun 1926.

Pada tahun yang sama dia mendapatkan gelar doktor pada bidang matematika dari Universitas Budapest. Berkat keahlian dan kepiawaiannya Von Neumann dalam bidang teori game yang melahirkan konsep seluler automata, teknologi bom atom, dan komputasi modern yang kemudian melahirkan komputer. Kegeniusannya dalam matematika telah terlihat semenjak kecil dengan mampu melakukan pembagian bilangan delapan digit (angka) di dalam kepalanya. Setelah mengajar di Berlin dan Hamburg, Von Neumann pindah ke Amerika pada tahun 1930 dan bekerja di Universitas Princeton serta menjadi salah satu pendiri Institute for Advanced Studies.

Dipicu ketertarikannya pada hidrodinamika dan kesulitan penyelesaian persamaan diferensial parsial nonlinier yang digunakan, Von Neumann kemudian beralih dalam bidang komputasi. Sebagai konsultan pada pengembangan ENIAC, dia merancang konsep arsitektur komputer yang masih dipakai sampai sekarang. Arsitektur Von Nuemann adalah komputer dengan program yang tersimpan (program dan data disimpan pada memori) dengan pengendali pusat, I/O, dan memori. berdasarkan beberapa definisi di atas, maka komputasi modern dapat diartikan sebagai suatu pemecahan masalah berdasarkan suatu inputan dengan menggunakan algoritma dimana penerapannya menggunakan berbagai teknologi yang telah berkembang seperti komputer.

Sumber:

http://www.beritanet.com/Education/John-Von-Neumann.html

http://id.wikipedia.org/wiki/Teknologi_komputasi

http://id.wikipedia.org/wiki/Komputasi

Read More

Floyd Mayweather Jr. v Manny Pacquiao
Pertarungan “Mega-tarung abad ini” antara Floyd mayweather Jr. dan Manny Pacquiao cukup menyita banyak kalangan, dari sampai masyarakat umum bahkan sampai artis hollywood ramai-ramai mendukung pertarungan tinju kali ini. Bukan hanya memperebutkan gelar yang bergengsi saja, tapi ini pembuktian para atlit untuk menduduki posisi puncaknya. Gelaran yang memukau semua kalangan ini memang patut untuk di saksikan, meskipun saya bukan penikmat tinju yang tahu betul seluk beluk setiap permainan ini, namun setiap gelaran yang bertajuk “mega” dari tahun ke tahun memang selalu memukai dan menjadi magnet tersendiri, bahkan orang awam sekalipun seperti saya ikut menyelami hingar bingar acara ini walau hanya menyaksikannya di TV.

Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, pertandingan antara Manuel Marquez dan Manny Pacquiao. Dimana di menangkan oleh Marquez dengan menjatuhkan “Pacman” pada ronde 6, Marquez menang telak dengan KO atas Manny. Cukup mengecewakan, karena selama ini saya mengidolakan Pacman, bukan hanya karena seorang Asia, tapi gaya bertarung dan intuisi bermain seorang Pacman sangat memukau.

Saya masih ingat pertandingan tinju “Mega” kelas berat, antara Mike Tyson dan Evander Holyfield yang mengecewakan banyak pihak, sangat underrated dan diluar ekspektasi standar, tentu kilas balik yang tidak terlalu menarik jika di bahas ulang. Akan tetapi, setidaknya saya masih dapat menikmati pertandingan-pertandingan lain, seperti pertandingan “Mega” Erik Morales dan Antonio Barrera. Pertandingan ini menjadi pertandingan yang berkesan, menjadi pertandingan yang sangat pantas berjuluk pertandingan “Mega”.

Namun seberapa “Mega” kah pertandingan ini di mata saya jika di bandingkan dengan pertandingan duel mega yang lainnya. Lantas, apa komentar saya dalam pertandingan yang di menangkan oleh Mayweather ini?.

Secara de facto Mayweather yang menang, karena memperoleh nilai yang mutlak dari para juri. Namun secara de jure, saya menilai Manny lah yang menang. Saya cukup subjektif kali ini dalam menilai, karena saya menjagokan Pacman, namun sayapun mempunyai penilaian yang cukup objektif dalam pertandingan ini. walau, semua hasil pertandingan memang tidak bisa di ganggu gugat oleh pihak manapun.

Dalam perspektif saya dari ronde ke ronde, pertandingan ini berjalan dengan cukup memukau. Masing-masing petinju mempunyai tipikal menyerang dan bertahan yang tinggi, yang sangat tidak di untungkan mungkin secara fisik adalah Manny pacquiao, melihat beberapa kali menjangkau lawannya dengan gerakan kaki maju kedepan untuk mendesak, sementara Mayweather yang kelewat lebih tinggi dari dirinya berusaha terus menjaga jarak dari Manny, selain untuk menghindari pukulan Manny, Mayweather cukup cerdik untuk melakukan jab lurus karena capaian lengannya yang cukup panjang dari Manny. Beberapa waktu Mayweather terdesak oleh Manny, namun sampai akhir ronde, Mayweather terus menjaga jarak. Saya bisa menyaksikan secara kontras gap antara capaian lengan para petinju dan geriknya untuk mencapai target pukulannya.

Namun jauh dari kontak fisik, saya berkesimpulan secara garis besar strategi antar petinju, Secara psikologis pihak Manny akan lebih agresif karena ingin merebut gelar, sehingga dirinya berkeinginan untuk TKO lawannya. Sedangkan pihak Mayweather akan lebih memprioritaskan pada strategi bertahan dan disiplin sehingga lebih mengutamakan penilaian akhir demi menjaga gelar yang saat ini disandangnya.

Di tambah tipikal menyerang Manny yang super “ngotot” dan kaku memberikan desakan-desakan yang mengakibatkan dirinya hilang kontrol terhadap pertahanan yang berjarak, karena lengan Manny tak sepanjang Mayweather. Butuh usaha beberapa langkah kaki untuk lebih mendesak Mayweather. Saya bisa menyaksikan saat Manny hilang angka di awal-awal Ronde 1 dan 2. Beberapa kali jab Mayweather mendarat di muka dan abdomen-nya. Berikut juga usaha-usahanya di ronde-ronde lain untuk mempertegas dominansinya di atas panggung.

Bagi saya pribadi, pertandingan ini menyisakan “sepotong kue”, sebagai penonton saya tidak begitu puas dengan hasilnya. Bukan karena kalahnya Pacman sebagai idola saya, tetapi baku hantam pertandingan tidaklah semegah namanya. Jika di bandingkan dengan pertandingan Erik Morales dan Antonio Barrera,dua orang petinju ini bertanding jantan untuk beradu dalam jarak dekat dengan tipikal pemain tinju besar. Bagi saya, Manny Pacquiao sudah memenuhi hal tersebut, tapi untuk Mayweather saya rasa tidak, saya menilai seorang Mayweather hanya “besar” di mulutnya. Gaya bermain dengan menjaga jarak adalah salah satu gaya bermain yang tidak terlalu bisa di apresiasi.

Sayangnya, Manny Pacquiao pun bermain dengan dominansi yang kurang. Beberapa kali di setiap kesempatan, lengahnya pertahanan Manny bisa di tembus oleh Mayweather, Jab mendarat mulus  pada target. Sehingga menguntungkan pihak lawan untuk mencuri nilai. Terutama saat krusial di ronde 11, saya menyaksikan Manny hilang fokus, karena dia semakin sadar pertandingan akan di set pada hasil penilaian yang tidak terlalu begitu menguntungkan bagi dirinya.

Memang dunia tinju bukanlah dunia pertandingan di arena bebas, barbar dan tanpa aturan, setiap pemain mempunyai strategi dan tipikal bermain masing-masing. Ulet tidaknya seorang petinju untuk menang adalah tingkat kedisiplinannya. Dan Mayweather cukup disiplin untuk masalah itu.

Berikut penilaian saya atas seluruh pertandingan.

Money = 1, 1, 1, 0, 1, 0, 1, 1, 1, 1, 1, 1
Pacman = 0, 0, 1, 1, 1, 1, 1, 0, 1, 1, 0, 1

Sederhananya, perhitungan saya secara keseluruhan dalam pertandingan ini adalah : Money kalah 2 kali dalam 12 Ronde, Pacman kalah 4 kali dalam 12 Ronde.

Selamat untuk Floyd Mayweather Jr. yang telah memenangkan pertandingan dan mempertahankan gelar tinju WBA (Super), WBC dan The Ring Championship (Welterweight), serta mendapatkan gelar tinju baru WBO (Welterweight) dan Lineal. Selamat untuk Manny Pacquiao yang menang di hati para pendukungnya. Saya kira setiap orang akan setuju kenapa Manny Pacquiao pantas untuk menjadi juara pada pertandingan kali ini.

Read More
layanan komputasi awan

layanan komputasi awan

Komputasi awan merupakan sebuah model komputasi dimana sumber daya seperti penggunaan processor / computing power, storage, network dan software menjadi virtual dan diberikan sebagai layanan daring menggunakan pola akses remote. Model billing dari layanan ini umumnya mirip dengan modem layanan publik. Ketersediaan on-demand sesuai kebutuhkan, mudah untuk di kontrol, dinamik dan skalabilitas yang hampir tanpa limit adalah beberapa atribut penting dari komputasi awan ini. Sebuah setup infrastruktur model komputasi awan biasanya di kenali sebagai ‘Cloud’.

Berikut adalah beberapa kategori layanan yang tersedia dari sebuah ‘Cloud’ seperti:

  1. Infrastructure As A Services (IAAS)
  2. Platform As A Service (PAAS)
  3. Software As A Service (SAAS)

‘Cloud’ ini biasanya tersedia sebagai layanan kepada siapa saja di Internet. Akan tetapi, varian yang di sebut ‘Private Cloud’ semakin populer untuk infrastruktur pribadi / private yang mempunyai atribut seperti ‘Cloud’ di atas.

Amazon Web Services adalah salah satu pemain utama yang memberikan layanan IAAS. Mereka mempunyai dua (2) layanan yang sangat populer – Elastic Compute Cloud (EC2) dan Simple Storage Service (S3). Layanan ini tersedia melalui layanan interface Web. Pelanggan dapat menggunakan EC2 dan S3 API untuk berkomunikasi dengan layanan ini. Kepopuleran API ini di dorong oleh berbagai produk Cloud yang memberikan dukungan kepada mereka juga. Eucalyptus Eucalyptus adalah software yang tersedia di bawah GPL yang dapat menolong untuk membuat dan mengatur private Cloud maupun public Cloud. Eucalyptus menjadi sangat populer dan tampaknya telah menjadi salah satu kunci platform cloud open source. Karena Eucalyptus memungkinkan layanan tersedia melalui API yang compatible dengan layanan EC2 / S3, tool client di tulis untuk Amazon Web Services (AWS) dapat digunakan menggunakan Eucalyptus. Di masa yang akan datang tampaknya Ubuntu akan menggunakan openstack dan tidak akan menggunakan lagi Eucalyptus untuk Cloud-nya. Ubuntu Enterprise Cloud (UEC) Ubuntu Enterprise Cloud (UEC) adalah sebuah tumpukan aplikasi dari Canonical yang termasuk dalam Ubuntu Server. UEC menggunakan Eucalyptus bersama sejumlah software open source lainnya. UEC membuat instalasi dan konfigurasi cloud menjadi sangat mudah. Canonical juga memberikan dukungan teknis komersial untuk UEC.

Mekanisme Akses Komputasi Awan

grid komputasi awan

grid komputasi awan

Mekanisme akses ke komputasi awan dapat dijalankan secara beraneka ragam – mulai dari akses standar LAN maupun intranet dengan sedikit aplikasi agen atau klien, sampai kepada akses extranet dan internet melalui browser yang terhubung ke sebuah portal aplikasi dari penyedia layanan komputasi awan. Protokol aplikasi yang digunakan pun dapat beragam, tetapi hal ini tidaklah terlalu signifikan bila dilihat dari sisi pengguna akhir (baca : transparan), dimana pengguna akhir cukup mengetahui bagaimana cara mengakses dan mempergunakan jasa layanan yang terdapat pada komputasi awan.

Perangkat Lunak Komputasi Awan

Belakangan ini dikembangkan sebuah bentuk nyata (atau setidaknya sebuah common platform/bentuk umum) dari konsep komputasi awan agar dapat di implementasikan secara umum dan lebih luas, seperti contoh berikut :

  • Ubuntu Enterprise Cloud (UEC)
  • Proxmox
  • OpenStack
  • OpenNebula
  • Eucalyptus

Engine utama dalam komputasi awan sebetulnya adalah aplikasi virtualisasi di sisi server, seperti diantaranya :

  • KVM
  • QEMU
  • Xen

Eucalyptus

Eucalyptus adalah software yang tersedia di bawah GPL yang dapat menolong untuk membuat dan mengatur private Cloud maupun public Cloud. Eucalyptus menjadi sangat populer dan tampaknya telah menjadi salah satu kunci platform cloud open source. Karena Eucalyptus memungkinkan layanan tersedia melalui API yang compatible dengan layanan EC2 / S3, tool client di tulis untuk Amazon Web Services (AWS) dapat digunakan menggunakan Eucalyptus. Di masa yang akan datang tampaknya Ubuntu akan menggunakan openstack dan tidak akan menggunakan lagi Eucalyptus untuk Cloud-nya.

Ubuntu Enterprise Cloud (UEC)

Ubuntu Enterprise Cloud (UEC) adalah sebuah tumpukan aplikasi dari Canonical yang termasuk dalam Ubuntu Server. UEC menggunakan Eucalyptus bersama sejumlah software open source lainnya. UEC membuat instalasi dan konfigurasi cloud menjadi sangat mudah. Canonical juga memberikan dukungan teknis komersial untuk UEC.

Komponen dari Cloud Berbasis Eucalyptus (UEC)

Node Controller (NC)

Sebuah node UEC adalah sebuah server dengan prosesor yang mempunyai kemampuan Virtualization Technology (VT) yang sudah di aktifkan yang mampu untuk menjalankan hypervisor seperti KVM. UEC akan secara automatis menginstalsi KVM jika pengguna memilih untuk menginstalasi node UEC. Virtual Machine (VM) yang dijalankan pada hypervisor dan di kontrol oleh UEC biasanya di sebut sebagai instance. Selain KVM, Eucalyptus juga mendukung hypervisor lain seperti Xen. Akan tetapi Canonical lebih memilih KVM sebagai hypervisor untuk UEC.

Node Controller yang di jalankan di setiap node akan mengatur siklus kehidupan dari instance yang jalan di node. Di satu sisi, NC berinteraksi dengan sistem operasi dan hypervisor yang jalan di node. Di sisi lain, NC akan berinteraksi dengan CC.

NC akan menanyakan sistem operasi yang jalan di node untuk mengetahui sumber daya fisik yang digunakan node, seperti, jumlah core, besar memory, ketersediaan disk dan juga mencek status dari VM instance yang jalan di node dan memberikan informasi tersebut ke CC.

Fungsi:

  1. Mengumpulkan data yang terkait dengan ketersediaan dan penggunaan sumber daya di node dan melaporkan ke CC.
  2. Manajemen siklus kehidupan dari instance.

Cluster Controller (CC)

CC mengatur satu atau lebih Noce Controller (NC) dan menjalankan / memanaje instance pada NC. CC juga memanage networking untuk instance yang jalan di Node sesuai dengan permintaan mode jaringan dari Eucalyptus.

CC berkomunikasi dengan CLC di satu sisi dan banyak NC di sisi lain.

Fungsi:

  1. Menerima permintaan dari CLC untuk menjalankan instance.
  2. Memutuskan NC yang mana yang digunakan untuk menjalankan instance tersebut.
  3. Mengatur virtual network untuk instance.
  4. Mengumpulkan informasi tentang NC yang terdaftar dan melaporkannya ke CLC.

Walrus Storage Controller (WS3)

WS3 memberikan layanan penyimpanan yang sederhana tapi persistent menggunakan API REST dan SOAP yang kompatibel dengan API S3.

Fungsi:

  1. Menyimpan machine image (sistem operasi untuk instance).
  2. Menyimpan snapshot
  3. Menyimpan dan memberikan layanan file menggunakan API S3.

WS3 dapat dilihat sebagai sebuah sistem penyimpanan file yang sederhana.

Storage Controller (SC)

SC menyediakan tempat penyimpanan (storage) block dimana instance akan melihatnya sebagai harddisk. Layanan ini mirip dengan layanan Elastic Block Storage (EBS) dari AWS.

Fungsi:

  1. Pembuatan dari device EBS
  2. Memberikan layanan block storage melalui protokol AoE atau iSCSI ke instance
  3. Memungkinkan pembuatan snapshot untuk volume.

Cloud Controller (CLC)

Cloud Controller (CLC) adalah front end dari seluruh infrastruktur cloud. CLC memberikan antar muka layanan web yang compliant dengan EC2 / S3 ke client di satu sisi. Di sisi lain, CLC berinteraksi dengan seluruh komponen infrastruktur Eucalyptus. CLC memberikan antar muka web ke user untuk melakukan manajemen beberapa aspek dari infratruktur UEC.

Fungsi:

  1. Memonitor ketersediaan sumber dari di berbagai komponen infrastruktur cloud, termasuk hypervisor pada node yang digunakan untuk melakukan manajemen instance dan cluster controller untuk melakukukan manajemen pada node hypervisor.
  2. Arbitrasi Sumber Daya – menentukan cluster mana yang akan digunakan untuk bertanggung jawab sebuah instance.
  3. Memonitor instance yang sedang berjalan. Pendek kata, CLC mempunyai pengetahuan yang lengkap tentang ketersediaan dan penggunaan sumber daya di cloud maupun status cloud. Eucalyptus Cloud.

REFERENSI

  • http://opensource.telkomspeedy.com/wiki
  • http://opensource.telkomspeedy.com/wiki/index.php/Ubuntu_Enterprise_Cloud
  • http://www.proxmox.com/downloads/proxmox-ve/
  • http://www.ubuntu.com/business/cloud/overview
  • http://www.ubuntu.com/business/cloud/technical-resources
  • http://pve.proxmox.com/wiki/Main_Page
Read More

LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat.

Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat, bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa. Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana.

Saya memintanya memperbaiki kembali, sampai dia menyerah. Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberi nilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri. Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. “Maaf Bapak dari mana?” “Dari Indonesia,” jawab saya. Dia pun tersenyum.

Read More

Beberapa pengertian tentang crowdsourcing diantaranya Menurut Wikipedia, crowdsourcing adalah sebuah kegiatan untuk mendelegasikan pekerjaan-pekerjaan yang biasa dikerjakan oleh pekerja atau pun kontraktor kepada sebuah grup yang besar dan tak terkira yang disebut komunitas, melalui undangan terbuka.

Sehingga secara garis besar dapat ditarik bahwa Crowdsourcing merupakan model bisnis dimana sebuah pekerjan/project akan digarap dan dikerjakan oleh ratusan bahkan ribuan orang untuk menghasilkan sebuah hasil terbaik dan maksimal. Crowdsourcing adalah model bisnis masa depan. Beberapa situs lokal seperti sribu.com merupakan pelopor Crowdsourcing Business dibidang desain grafis di Indonesia. Hingga saat ini mereka telah dipercaya mengerjakan berbagai project desain dari berbagai perusahaan baik perusahaan besar maupun kecil.

Di abad ke 21 ini, Internet merupakan salah satu alat/media yang memfasilitasi segala hal apapun dalam bentuk kontribusi yang sangat luas. Memungkinkan untuk semua orang dan semua hal berpartisipasi pada jaringan, terhubung dengan piranti komputer. Sehingga dapat di katakan bahwa Internet merupakan suatu wadah berkumpulnya milyaran user didunia, segala aktifitas dunia maya bergabung di dalamnya, mulai dari hal yang ringan sampai kelas berat. Dari transaksi satu dolar hingga milyaran dolar. Internet mempunyai visi, menghubungkan semua orang yang ada di muka bumi tanpa batasan, tanpa mengenal usia, suku-bangsa, agama dan negara dan membuka akses informasi siapaun yang terhubung dengannya. Informasi menjadi konten dan sekaligus menjadi kunci utama dalam dalam abad partisipasi ini, mulai dari bentuk dan teknologi yang sederhana sampai dengan tingkat tinggi dan canggih. Namun terkadang atau juga sering kali, informasi menjadi hal yang tidak murah untuk di dapat (walau dengan konsep potong biaya Internet itu sendiri), tren yang telah, sedang berkembang adalah crowdsourcing yang memungkin orang yang butuh informasi dapat mendapatkannya dengan biaya murah atau pun gratis.

Read More

Tatkala si Arun lantang terus berbicara Demokrasi di belakang rumpunan para pendemo sebenarnya ada hal kecil yang selama ini di pendam olehnya dan hampir semua orang tidak tahu masalah kecil si Arun kecuali Mak nyak, Ibunya. Dalam genggam hatinya dia terus menyimpan hal itu untuk menutupi bahwa sebenarnya dia tidak tahu apa arti esensi Demokrasi yang lantang di teriakannya itu. “Arun oh arun itu bukan kesalahan dirimu nak, itu salah Emak nak, yang enggak bisa ngasih pendidikan yang baik buatmu nak”  lirih Mak nyak.

* * *

Sambil menggoyang-goyang pantatnya ibu-ibu desa sedang menikmati tontonan Dangdut di RT sebelah, terang saja yang mengadakan pak Haji somad, salah satu warga yang berkecukupan di daerah itu. Kali ini dia baru saja menikahkan anaknya yang kedua, Teti anak perempuan satu-satunya di keluarga pak Haji. Pesta bukan main meriahnya, banyak tamu undangan yang datang dari jajaran bapak-bapak kepolisian, dinas setempat, dan orang-orang yang cukup terpandang di daerah tersebut. Alhasil, karena sikapnya yang terbuka dan bersahaja pak Haji memang tidak sungkan untuk berbagi dengan masyarakat sekitar, 4 tahun yang lalu pun pesta perkawinan anak pertamanya tidak jauh lebih meriah dari hari ini, Sugito. Di dalam satu gedung yang cukup besar, areanya luas dan banyak menampung masyarakat sekitar yang menjadi tamu undangannya. Tapi khusus anaknya yang kedua ini memang dia menginginkan di rumahnya. “Pak Haji somad memang tau banget ngasih hiburan buat masyarakat disini” cetus Bu seni di samping Mak nyak. Mak nyak menoleh dan senyum “betul” sahutnya. Tanpa banyak berbicara lagi mereka pun ikut berjoget ria menikmati alunan musik Dangdut. Ini sudah menjadi sebuah macam tradisi di daerah tersebut, orang-orang tidak sungkan untuk saling berbagi bergembira ria di dalam satu kerumpunan warga untuk menjadi masyarakat yang akur dan bersahaja, ternyata bahagia itu sederhana.

* * *

“Arun mau kemana nak?” sambil mencuci piring Mak nyak memanggil si Arun yang datang dari luar, langsung ke kamar, dan keluar lagi. Itu sudah menjadi kebiasaannya, Mak nyak sudah sangat mengerti tingkah laku si Arun itu. “Mau keluar dulu nyak” sahutnya. “Aduh mau kemana lagi itu si Arun” tukas Mak nyak. Arun adalah anak Mak nyak satu-satunya, Bapaknya meninggal waktu si Arun sekolah SMA kelas 2. Bapaknya adalah seorang PNS di dinas P & K. Walau di tinggal Bapaknya, si Arun dengan pede-nya masih bersemangat untuk terus menggapai cita-citanya jadi seorang Insinyur (Bahasa orang sekarang: S.T.)

Didalam rumah yang sederhana Mak nyak punya usaha warung kecil di depan, mungkin untuk nambah-nambah ekonomi keluarga, maklum Mak nyak ini butuh serba usaha untuk tetap bisa mendukung si Arun bersekolah disekolah tinggi (begitu Mak nyak menyebutnya: Sekolah tinggi) atau lebih umum setiap orang biasa menggunakan kata Universitas. Ekonomi Mak nyak sedikit di topang dengan uang pensiunan Suaminya, jadi hidup Arun dan Mak nyak memang sangat sangat sederhana dan diluar kebiasaannya yang lain Mak nyak juga tidak segan untuk bantu-bantu membuat sajian makanan di kateringan sebelah, kalau sedang ada panggilan untuk diminta bantuan, untuk sesekali karena orderan sedang banyak biasanya Mak nyak turun tangan dengan upah Rp. 100.000,00/harinya. Si Arun suka menggerutu kalau Mak nyak kerja di katering sebelah, katanya malu-maluin aja. Padahal tanpa sadar biaya si Arun sehari-hari juga terbantukan dari sana. Ah Arun, memang pria jenaka, Ini namanya hidup run. Padahal setelah di nikmati hasil jerihnya Arun lupa juga uang itu hasil dari mana, yang jelas dia senang saja di kasih duit oleh Mak nyak, dasar.

Arun bukanlah pemuda spesial, Arun hanya mahasiswa yang hidupnya naik turun dan ah biasa saja seperti kebanyakan, hanya saja punya masalah mental disorder yaitu terhadap psikisnya yang sering merasa sendiri dalam keramaian, pergaulannya pun tidak terlalu luas, karena sifatnya yang intensif hanya beberapa orang yang kenal dekat dengan Arun dan tidak terlalu banyak teman yang dekat sebenarnya selama ini, kecuali Mak nyak sendiri, Ibunya. Dalam kesederhanaan hidupnya yang memang betul-betul sangat sederhana, sebenarnya hidup Arun pernah mencicipi masa-masa indah semasa Bapaknya masih ada, Hidupnya cukup diatas rata-rata dengan rencana-rencana yang terkesan kamuflase saat ini yang begitu bergetah kuat di ingatan si Arun untuk tetap memikirkan “Jika dulu, masih ada, mungkin” kata-kata itulah yang selalu si Arun ulang-ulang di pikirannya. Arun di janjikan Bapaknya untuk di belikan Mobil, kuliah di Universitas yang bergengsi, dan yang paling diingatnya, Bapaknya tidak mau si Arun jadi Polisi, entahlah. Sangat bertolak belakang dengan pak Haji somad, yang terang-terangan teman-temannya banyak polisi, Arun pun bingung entah kenapa, belum sempat Arun menanyakan kepada Bapaknya. Kemunduran dan nasib telah berbalik 180 derajat ketika Bapaknya sakit-sakitan, 3 tahun menjalani hidup dengan usaha untuk menyembukan penyakit yang cukup memerlukan biaya lumayan besar, akhirnya keadaan sedikit demi sedikit menipis dan akhirnya Arun harus rela di tinggal Bapaknya pergi, selamanya.

Kegiatan Arun sekarang bisa dikatakan berhimpit dengan jadwal tugas kuliah, waktu kuliah, dan kegiatan ekstranya menjadi aktivis lembaga kampus karena sesekali dia harus kerja lembur juga untuk mencari tambahan Dana demi biaya sehari-harinya dan sedikit tabungan kuliahnya di semester depan, sedikit banyak memang tidak pernah banyak, malah cukup pun tidak yang akhirnya tetap Mak nyak yang jadi andalan si Arun ini. Dalam kesederhanaan yang melilit dan hampir frustasi dengan hidup untuk mencari biaya kuliah, patah semangat sering tapi tidak berlarut untuk terus menjadikannya patah arang karena dalam hidupnya si Arun selalu berpegang erat pada prinsipnya, ada sebuah kata yang di semat dalam hidupnya yaitu pepatah Albert Einstein bahwa “Life is like riding a bicycle. To keep your balance, you must keep moving.” dan Filosofi hidupnya pun penuh dengan ambisi untuk mengejar passion dalam hidupnya ketika pepatah sang maestro angklung Jawa Barat, Udjo Ngalagena bertitah bahwa ” What You Are, What Job You Have Choosen, Do It Well, Do It With Love, Without Love, You Are Dead Before You Die”. Dia sangat percaya apa yang dilakukannya tidak akan sia-sia, yang sebenarnya banyak orang lebih memilih hidupnya dikotak-kotak yang sudah aman. Mungkin memang ada benarnya bahwa sebuah kata-kata itu akan sangat luar biasa dampaknya pada perspektif diri, karena dalam satu konotasi paragraf di dalam sebuah buku terangkai kata dengan bunyi megah bahwa “hidup itu singkat, namun kata-kata dapat abadi”. Mungkin kata-kata yang di ingat si Arun itu terserap halus di dalam dirinya, menjadikan sebuah Enigma impulsion.

Entahlah jika anak-anak sebayanya mungkin lebih banyak mengidolakan pemain sepakbola, artis korea, penyanyi klasik, musik 80’s, atau ingin jadi PNS. si Arun ini tidak untuk semua itu, hidupnya hanya ingin dihidupinya dengan memperjuangkan passionnya. Walaupun terkadang membuat khawatir Mak nyak terhadap filosofi hidupnya itu, tapi Mak nyak merelakan saja jalan hidupnya itu untuk dia dayung kemana saja, toh mungkin Mak nyak tidak bisa membendung hidup anaknya itu, ada selalu keragu-raguan, ada juga harapan-harapan, tapi Mak nyak memang Ibu yang baik, Ibu yang tidak lupa untuk selalu mendo’akan apapun untuk jadinya si Arun itu. “Biarlah Arun larut dalam jalannya nasib” Mak nyak dalam hati.

* * *

Arun melangkah kecil di rak perpustakaan kampus, dia sedang mencari-cari buku bermuatan “Controversiae” karya Seneca Tua. Dengan harapan dia menemukannya, akan tetapi dia berpikir lagi ketika rak yang di sambanginya kebanyakan berbahasa Indonesia, mungkin yang diharapkannya adalah buku yang berbahasa asing, dia pindah dari rak satu ke rak selanjutnya mencari jelas setiap label di rak bahwa dia benar ada di tempat kategori rak yang tepat. Dia mencari setiap detail buku dan judulnya, setiap ada sesekali judul dan sub-judul yang dapat di kategorikan bahasannya di mengambil dan membaca tulisan pandangan besar bagian belakang buku, tapi setelah 1 jam berlalu dia tidak menemukan buku yang dia inginkan itu.

Sekitar 50 langkah dari tempat rak buku dimana dia sedang berdiri, disana ada penjaga perpustakaan, dia melihat itu. Akhirnya dia mencoba memilih menanyakan walau perasaannya ragu jika penjaga itu pun akan tahu tentang buku semacam yang dia maksud. “Mmm boleh nanya” si Arun sedikit berpikir tergagap, “Iya silahkan” penjaga perpustakaan itu ramah menukas tanya si Arun. “Ini boleh di carikan buku karyanya Seneca (ca; dibaca ka) Tua” si Arun bersambut, lalu tanpa menukas lagi penjaga perpustakaan mencoba menginput kata yang di sebutkan si Arun , dan hasilnya? Nihil. “Wah tidak ada!” jawab penjaga perpustakaan menggeleng-geleng kepala dengan tangan kanan yang mencoba membalik layar monitornya, lalu si Arun melihat hasil inputan pencarian tersebut “Oh salah nulisnya, bukan Seneka tapi Seneca  (ca; dibaca ca, khas aksen Indonesia)”. Lalu penjaga perpustakaan merevisi tulisannya, dan hasilnya? masih tetap tidak ada. Penjaga perpustakaan tersebut balik bertanya “Coba judulnya apa?” si Arun mencoba mengingat, mengernyitkan dahi dan menjawab dengan jeda hampir 2 detik “Oh iya judulnya Seneca the Elder: Declamations” . “Coba saya tulis dulu judulnya” dengan tanggap pikirannya melayang berkata seperti itu setelah melihat pulpen untuk tanda tangan buku tamu perpustakaan, lalu dia meminta sedikit sobekan kertas kepada penjaga tadi dan menulis judul yang dimaksudnya di kertas tersebut. Singkat cerita, hasilnya? Nihil.

Dia masih berpikir banyak setelah pulang dari perpustakaan, karena buku yang dimaksudkannya tidak ada disana, sebelumnya dia sedikit tahu tentang buku yang akan di bacanya itu lewat buku bahasan tentang 50 buku yang menggugah di dunia, dia melihat salah satu penulisnya adalah Seneca Tua, akhirnya si Arun tertarik dengan bahasan-bahasan buku yang menjadi karyanya tersebut karena Seneca Tua adalah seorang Retorikus, dimana si Arun memang sedang giat memperhatikan politik di dalam negeri sendiri dan mencoba untuk mencari setiap falsafah akar politik dan dalil untuk di jadikan pusaran pemikirannya dalam penempatan dirinya sebagai Retorikus amatir atau Retorikus kampus. “Sebagai mahasiswa kita harus kritis” dalam pikirannya.

Kemauan si Arun ini memang luarbiasa, dengan tekad ingin selalu melahap ilmu apapun yang dia ingin bisa, karena kecintaannya adalah belajar tanpa henti, mengkaji setiap ilmu yang pikirnya menurut dia itu merupakan sebuah konsepsi ilmu yang inti dan penting untuk di terapkan di kehidupan, masyarakat dan bangsa. Padahal fundamental bidang kuliahnya adalah bidang Teknologi informatika. Tidak main – main memang pandangannya itu, terlalu rinci dengan cita-cita yang besar, padahal catatan akademisinya di nilai kurang. Tapi dia percaya bahwa nilai hanyalah sebuah persepsi halus yang hanya di torehkan tinta di atas putihnya kertas. Bermacam-macam orang banyak membuktikan bahwa nilai hanya menjadi sebuah kontradiksi kreativitas ketika sistem mengatur bagaimana nilai itu akan di perhitungkan, karena tidak semua kemampuan manusia seutuhnya bisa di nilai hanya dengan menjawab sekedar essay, tanya-jawab, dan pilihan ganda. Banyak orang juga yang telah menginspirasi pemikiran si Arun tentang pandangan terhadap lembaga pendidikan itu sendiri, apalagi di saat-saat seperti ini dimana Universitas lebih bermuka tebal komersialisasi daripada menjabarkan esensi pentingnya pendidikan bagi masyarakat luas, karena masyarakat perlu pendidikan, mereka perlu pintar dan cerdas, tapi masalah akutnya adalah mereka selalu dijauhkan dari pendidikan itu sendiri dengan masalah laten yaitu selalu karena masalah biaya, lagi-lagi ini sangat klasik tapi hidup adalah perjuangan.

Sebagian orang-orang yang berhasil seperti Zuckerberg, Gates, Jobs dan malah pak Somad sendiri adalah contoh orang-orang yang bukan berlatarkan pendidikan tinggi, yang lain mungkin pernah merasakan bagaimana masuk sekolah di tingkatan kelas yang lebih tinggi, tapi pak Somad sendiri yang terkenal kaya dan bersahaja di kampung ini cuma lulusan SD, si Arun percaya tidak percaya tapi memang begitu kenyataannya. Diceritakan dulu ini pak Somad hanyalah anak tukang becak, setiap harinya pak Somad kecil lebih memilih membantu Ibunya bekerja di ladang tembakau, dan itupun bukan lahan keluarganya tapi ikut kerja ke yang punya lahan, Almarhum Haji Sobari Muslim Mustofa  ―begitu di kenalnya orang ini karena si Arun tahu cerita-cerita orang di kampungnya dan namanya terabadikan dengan nama masjid yang tanahnya di wakafkan dan dibangun oleh Almarhum selagi ada dulu―. Sesekali pak Somad kecil tidak pergi ke sekolah dan lebih memilih banyak ikut Ibunya ke ladang, Orang tuanya tidak bisa melarang karena memang kondisi dan keadaan keluarganya pun perlu topangan hidup dari sumber penghasilannya di ladang, malah untuk seukuran dulu yang mungkin masih jamannya satu sen dua sen rupiah saja, keluarga pak Somad terbilang tidak mampu menyekolahkan Anak-anaknya. Pemikiran seperti ini seperti doktrin didalam pikiran si Arun, disisi lain kebutuhan orang untuk belajar pada tingkatan pendidikan yang lebih tinggi itu penting, tapi ada masalah  ketika kemampuannya terbatasi dengan masalah biaya ada sesuatu yang susah tergambarkan untuk mencapai titik tengahnya. Sekali lagi run hidup adalah perjuangan run.

Arun menginjak semester ganjil sekarang, dirinya di sibukan dengan cukup banyak tugas kuliah, praktikum dan persiapan penulisan ilmiahnya. Penulisan ilmiahnya ini dikategorikan sebagai penelitian sebenarnya, karena si Arun ingin lebih mendalam dan tidak setengah-setengah untuk mengkaji ilmunya, kegiatannya dilakukan di sela-sela aktif sebagai aktivis kampus, barbagi antara keinginan, kemauan, dan kerja keras. Penelitiannya di fokuskan kepada gejala sosial masyarakat terhadap trend teknologi digital, bersama koleganya satu kampus mahasiswi di Fakultas Psikologi untuk menciptakan sinergi dengan disiplin ilmu lain. Si Arun intensif membicarakan teori-teori hipotesis tentang disinhibition online dan Big Five personality traits dimana ide pemikirannya tersebut harus dibuktikan secara ilmiah untuk menjawab inti masalahnya yaitu teori si Arun yang menyatakan bahwa “jika terjadi suatu kemunduran dalam penggunaan teknologi yang eksponensial, maka telah terjadi ambivalensi yang dapat mengakibatkan lag change”. Penelitiannya ini atas biaya sendiri, walau si Arun tahu kantung satu bulannya tidak akan pernah cukup untuk melakukan kajian penelitiannya, tapi dengan idenya yang cukup kreatif, dia berpikir di dalam masyarakat teknologi digital yang ingin dia teliti, tidak perlu untuk terjun langsung ke lapangan, untuk additional data mungkin penting, tapi lebih penting penelitiannya itu di uji cobakan di dunia maya sendiri. Range umur masyarakat yang di telitinya adalah masyarakat muda yang lebih condong menggunakan internet, dimana acuan lahan lingkungan penelitiannya adalah masyarakat itu sendiri yang secara tidak langsung mempunyai scope tersendiri dan si Arun  sesekali bekerjasama dengan beberapa SMP, SMA, dan SD swasta maupun negeri untuk mengadakan survei penelitiannya. Jika ada sedikit ongkos untuk melakukan perjalanan jauh sesekali pergi ke Daerah di sekitar kampung halamannya untuk berdiskusi dengan masyarakat sekolah disana, bukan untuk maksud yang lain tapi hanya ingin melihat kondisi kelaikan pendidikan di daerah dengan teknologi informasi yang mereka terapkan disana, untuk dia kaji dan dia simpulkan kondisinya.

Dengan biaya yang ditekan sangat murah, bermodalkan waktu dan uang sewa ke warnet si Arun mulai fokus untuk mengumpulkan materi-materi penelitiannya, lalu membut sebuah format survei online di forum online untuk di sebar ke beberapa portal penyedia dengan poin-poin pilihan yang tanpa di sadari oleh para user yang membaca tulisannya telah menjadi bagian objek penelitiannya. Bukan tanpa usaha si Arun ini untuk mencari dana untuk penelitiannya, sebelumnya si Arun bekerjasama dengan Dosen yang menjadi teman baiknya mencoba mengajukan ke salah satu foundation di korea dan ternyata proposalnya di tolak, namun tidak patah semangat dia terus memfokuskan dirinya untuk terus meneliti proposalnya tersebut. Pikirnya jika terus menunggu biaya, sampai kapan penelitiannya itu akan bisa di selesaikan dan di kerjakan. Inilah passion si Arun. Semata-mata ini bukanlah hanya penelitian Arun sebagai tugasnya saja, tapi ini menyangkut pada keinginannya untuk loyal pada masyarakat sendiri, Arun ingin mendedikasikan waktunya untuk banyak menelaah dan berbagi dengan masyarakat luas walau sebagaimana pun dalam keadaan yang selama ini membatasinya, tetap perjuangannya yang mutlak untuk memperlihatkan digdaya arah filosofi hidupnya. “Tidaklah kita cukup hanya untuk mengisi perut dua kali dalam satu hari, itulah rezeki kita yang sebetulnya benar-benar kita perlukan untuk hidup” dalam perspektif si Arun nilai material tidak selalu menjadi momok yang utama dalam berkarya, walau secara premier manusia mempunyai kebutuhan dalam hidupnya. Satu falsafah yang selalu di ingat oleh Arun.

Remember! the Five guiding principle of our nation life.

First: Believe in god
Second: Nationality
Thrid: Humanity
Four: Democracy
Fifth: Social Justice

Deklarasi sebagai seorang mahasiswa bagi si Arun adalah sebuah filosofi dasar sebagai jembatan untuk menuju ke jenjang lebih mahsyur lagi, yaitu masyarakat. Ternyata bukan semata-mata hanya karena gelar atau hanya mempunyai kemampuan yang di ekori di kampus saja, akan tetapi si Arun lebih banyak berpikir bagaimana dia menerapkannya di lingkungannya, untuk masyarakat. Dia ingin mematahkan fenomena di masyarakat sekitar, bahwa ketika semakin kita pintar justru malah banyak teori bukan aksi. Hipotesis itu muncul dari tukang becak, betul dari tukang becak. Bahwa terlalu lama berkelit dengan teori dan buku membuat argumen-argumen hipokrit muncul, banyak yang pintar justru malah melahirkan macam-macam teori yang aksinya di dibenam di bawah permukaan. Begitu bukan lingkungan kita? dimana berbagai macam aspek terlumati dengan busa mulut-mulut manis dan suatu ketika siasat pemilihan demokrasi akan mulai. Banyak orang yang mengikuti pemilihan berapi-api mendekati lingkungannya untuk mereka memohon meminta hati para rakyatnya rela berbagi dengan sedikit potongan asanya, padahal hal itu yang tidak bisa di beli dengan rayuan. Hati rakyat yang telah terbeli itu adalah hati yang terludahi dengan lumatan mulut para penjagal demokrasi sebenarnya. Semestinya hal itu tersingkirkan dengan nalar yang jeli.

Hipotesis tukang becak

Suasana di hari kamis suntuk dengan obrolan yang lalu-lalang sekitar perkuliahan tentang bahasa pemrograman membuat hari itu sangat frustasi bukan main kantuknya, si Arun hanya melambai-lambai di kelas dan tidak ada hari yang begitu bosan bagi dirinya ketika kuliah ternyata tidak sesuai dengan perkiraannya, yaitu banyak penyampaian yang hampir TIDAK PENTING!.

Setelah kelas selesai, dia berjalan lurus menuju lorong kanan.

[Bersambung]

Sang “tuan tanah” menyuburkan rumput daripada tetangganya

“We will continue our struggle, fanatically, and without pity, until death!” – dalam pidato seseorang dengan kumisnya yang mirip charlie chaplin

Dalam keadaan yang tidak normal, di hari-hari yang sangat panas karena itu pertengahan februari, waktu berkala saat musim kemarau tiba si Arun sedang membaca buku di pekarangan kampus, buku yang dia baca berisikan tentang perjuangan-perjuangan bavarian pada perang dunia kedua setelah kekalahannya pada perang dunia pertama, dimana mereka menegakan nasionalisme untuk negaranya. Rela berperang kembali untuk kedaulatan harga diri bangsanya (bukan main). Namun sebenarnya ada hal kecil yang terlihat namun tak terlihat, bahwa adanya penghargaan dari sang “tuan tanah” yang terselubung, telah diam-diam menghancurkan negaranya sendiri selama transisi pergerakannya itu. Hal yang luput karena terdistraksi dengan ambisi dan percaya diri yang berlebih, padahal “tuan tanah” lebih tahu kapan mencabut pagu, kapan menancapkannya kembali. Landlord is watching you brother.

Menghargai adalah hal kecil yang dapat menjadi besar, memberikan dampak diluar dari apa yang kita pikirkan. Sekecil apapun perasaan dari menghargai tersebut akan sangat berpengaruh besar terhadap penerimaan psikologis seseorang, apalagi menghargai dalam bentuk yang lebih besar, jika kecil saja dapat berpengaruh besar bagaimana yang lebih besar?

Arun berpikir dalam perspektif enigma-nya untuk mendistraksi opini kasualnya ke arah yang lebih signifikan. Kita tidak sedang membicarakan Adolf Hitler dengan Nazi-nya, jadi jangan memposisikan pemikiran si Arun ini lebih kepada apa yang dilakukan oleh para bavarian waktu itu. Namun yang akan dijelajah dalam pemikirannya adalah jilid yang terlewatkan, ada semacam hal yang orthodok selama ini telah terlewatkan, padahal itu hal kecil dari serangkaian yang telah banyak terjadi di jerman tahun 1890 – 1940. Bagaimanapun ambisi tidak akan pernah bisa mengalahkan sikap skalatis keinginan untuk berbuat baik, karena hal baik akan mendatangan keinginan untuk baik pula, meski sebuah anomali akan selalu bercampur dengan propaganda. Sangat beda halnya dengan sikap negatif, jika terus di paksakan akan menerima kehancurannya sendiri, terkapar di hadapan setiap orang.

Sangat teringat dengan sebuah ajaran salah satu agama yang menyatakan bahwa “senyum itu adalah ibadah”. Bukankah senyum adalah bentuk daripada menghargai? membayakangkan hal tersebut, membayangkan pula bahwa menghargai itu ternyata tidak mahal. Hanya perlu menarik otot mulut saja untuk menarik bibir ke kiri dan ke kanan dengan sukarela, bukan karena di paksa. Jadi bisa dibayangkan bagaimana dampak dalam lingkungan sosial ketika seseorang bercakap dan mengapresiasi seni humornya dengan sedikit tersenyum, apakah itu bukan menghargai juga?

Hal inilah yang menjadi enigma dalam pemikiran si Arun bahwa, kenapa orang-orang pintar jerman yang notabene Ilmuwan-ilmuwan besar pada waktu itu, perasaan senang melingkupi diri mereka saat “tuan tanah” memanggil, padahal mereka tahu persis siapa “tuan tanah” tersebut. Apakah dari mereka itu kebanyakan telah lupa dengan islah fuhrer-nya tentang victory of faith atau triumph of the will yang selama ini melingkupi hati mereka dengan jeruji nasionalisme. Mungkin ada hal yang di lupakan dalam sebuah ambisi, yaitu hal dalam menghargai. Ini presumsi Arun, yang terjadi adalah penghargaan untuk kedudukan dalam membangun idealisme nasionalisme negara bavarian baru tidak tersemat utuh dengan apa yang di cita-citakan oleh fuhrer-nya kepada setiap ilmuwan jerman pada saat itu, mungkin tidak semua merasakan bagaimana keahliannya bisa bermanfaat dan di hargai di mata bangsanya. Sang “tuan tanah” tahu kapan saat dia menancapkan pagu di tengah-tengah resesi, yang pada akhirnya orang pintar jerman rela bekerja untuk mereka. Hal kecil yang di buat besar, dengan memberikan penghargaan bagi mereka, pada akhirnya para ilmuwan jerman memilih berkarya di negeri “tuan tanah”.

Arun mulai berfilosofi dalam pemikirannya, kata demi kata mulai bersimbolik membetuk frasa bahwa: jangan salahkan nasionalisme yang tergadai, jika negara dan bangsanya tidak bisa menghargai jerihnya dan Ini menjadi sebuah manifesto idealisme untuk memilih antara menjadi sesuatu yang dianggap tidak “berguna” di negeri tuan sendiri atau “berguna” di negeri tuan lain. Kontradiktif mungkinkah begitu?.

Read More

Sebagaimana yang dikatakan oleh William J. Stanton  (1993:7)  bahwa pemasaran adalah ”suatu sistem total dari kegiatan bisnis yang dirancang untuk merencanakan, menentukan harga, mempromosikan dan mendistribusikan barang-barang yang dapat memuaskan keinginan dan jasa baik kepada konsumen saat ini maupun konsumen potensial”. Dari definisi tersebut dapat diketahui bahwa dalam pemasaran terdapat empat unsur pokok kegiatan pemasaran yakni produk, harga, promosi dan distribusi yang dimana satu sama lain saling berkaitan. Sehingga untuk menciptakan pemasaran yang baik dan berhasil dalam mencapai tujuan perusahaan serta memberikan kepuasan terhadap konsumen, maka keempat unsur tadi perlu dirancang sebaik mungkin terutama dengan memperhatikan apa yang diinginkan dan dibutuhkan konsumen sesuai  dengan konsep pemasaran.

Case study ini fokus pada permasalahan PT. Laut Selatan OSS sebagai Group Gun Tai Chi yang telah berdiri sejak tahun 1984 di Taiwan, dan bergerak di bidang jasa transportasi dari bermacam-macam pelayaran atau pemilik kapal (carrier) dan membuat suatu rangkaian pengiriman (shipment) dari beberapa pengirim barang (shipper) dalam jumlah kecil ataupun besar, ke tujuan tertentu dengan harga yang lebih murah. Dari perspektif lain, layanan ini di sebut sebagai jasa freight forwarding dan dipandang penting oleh perusahaan yang bekerja keras untuk mencapai dua tujuan sekaligus yaitu kepuasan pelanggan (pengiriman produk pada kondisi, waktu dan tempat yang tepat) serta penghematan biaya (menghindari aktivitas dan biaya yang tidak perlu untuk menangani sendiri urusan cargo dan dokumen). Namun untuk PT. Laut Selatan OSS sendiri di Indonesia mesih cukup muda, terutama keberadannya di Semarang masih terhitung baru yaitu pada tahun 2004. Namun karena produk jasa pengiriman dan kualitas yang ditawarkan bagus, dan mempunyai networking yang luas di berbagai negara, maka kehadirannya sangat cepat mendapat perhatian dari para pelaku pasar di bidang shipping dan forwarding. Pada tahun pertamanya kinerja pemasaran PT. Laut Selatan OSS cukup bagus dan meningkat dengan pesat. Namun seiring berjalannya waktu pada periode November 2005 penurunan drastis terjadi dan sejak saat itu pertumbuhan penjualan mulai menurun dan tidak stabil, hal ini cukup mengkhawatirkan mengingat beberapa customer mulai berpindah kepada pesaing. Oleh karena itu Perusahaan merasa harus segera bertindak untuk menyiasati beberapa bidang dalam bauran pemasaran untuk mendongkrak kembali kinerja pemasaran.

Read More

Penggunaan sistem informasi (SI) dan teknologi informasi (TI) oleh usaha kecil menengah (UKM) merupakan suatu hal yang menarik untuk diketahui. Sistem dan teknologi tersebut disebutkan    sebagai penggerak pembangunan yang memegang peranan penting dalam pertumbuhan berkelanjutan suatu organisasi bisnis. Peningkatan investasi di bidang TI dan peran strategis yang dimainkan oleh SI membuat implementasi TI sebagai suatu isu penting dalam disiplin Sistem Informasi Manajemen. TI mengubah cara melakukan bisnis karena menawarkan peluang sekaligus tantangan baru. Seluruh mata rantai pasokan (supply chain) diubah dengan menggunakan TI dengan harapan bisa lebih kompetitif dalam melakukan bisnis. Mata rantai pasokan adalah jaringan yang memfasilitasi pengadaan material, pengubahan bahan mentah menjadi produk, dan pendistribusian produk akhir kepada pelanggan. Sedangkan manajemen matai rantai pasokan adalah koordinasi ketiga kegiatan tersebut (Laudon 2002:53).

Read More